Senin, 14 Februari 2011
Jumat, 19 November 2010
Puisi - Puisi
Saksi Air Mata
Kemarin aku sempat melihatmu terisak menangis
Melalui bulir-bulir hujan d kamarmu
Tentang waktu yang kau beri janji
Atu malam tepatmu mencipta mimpi
Kemarin aku melihatmu menangis
Dengan air mata yang kau curi daripemakaman
Saat orang-orang berbaju hitam merenungi nisan
Atau bisu dalam tabura merah kembang-kembangan
Kemarin aku melihatmu menangis
Tanpa busana dan gaun malam
Seperti rebulan mengukur khusyuk dalam telanjang
Karena aku tetap dalam wujud jalang
Tadi saat kulihat kau tersenyum
Seperti kebohongan yang dijejalkan kedalam kerongkongan
Lewat jam yang mulai diam
Aku pergi perlahan
Karya : Aka Muhibullah
Keluhan Al-qur’an
Apa yang sedang kaulakukan?
Apa kau sedang menyesatkan dirimu sendiri?
Kini kau telauh jauh dariku
Bahkan kau sudah lupa akan diriku
Kau membukaku jika kau memerlukan sesuatu didalam diriku
Tapi!!! kau tidak pernah merenungkan makna yang terkandung didalamku
Setelah kau mendapatkan apa yang kau inginkan
Kau menyimpanku dalam lemari kacamu
Diantara jajaran-jajaran buku yang tertata rapih
Yang menghiasi rumahmu
Tapi aku selalu menunggumu
Menunggu untuk mendawamkan aku disetiap
Pagi dan petang
Membantumu untuk berbincang-bincang
Dengan sang khalik agar kau kembali
Ke fitrah ilahi
Karya : Neng Astriana
Sunyi
Begitu indahnya lembayung
Yang mengantarkan sore hari
Untuk pulang dan menjemput sang malam
Apakah disana akan seperti ini?
Ketika malam menjelang
Begitu sunyi dan hening
Seolah bumi ini tak berpenghuni
Seperti inikah disana?
Sendiri, sunyi
Bahkan tubuh kitapun tidak dapat Bergerak
Mereka semua menangis dan merintih
Karna harus menanggung dosa
Yang kita perbuat
Karya : Neng Astriana
Mengeja Ajal
Ku eja ajal dipecahan bibirku
Mengulum wangi kafan saat detik berlagu
Sisa dari kontemplasi ragu
Ku eja ajal dalam abjad waktu
Lewat pahatan diwajahmu
Yang mulai mengering
Ku eja ajal satu-satu
Menasbihkan tangis-tangis
Pada kabut bathinku
Ku eja ajal pada kaku jasadku
Wangi tanah merah
Hitam nisan, warna kembang
Kucumbu
Karya : Aka Muhibullah
Jumat, 05 Februari 2010
Makalah Manusia dan Penderitaan
MANUSIA DAN PENDERITAAN
MAKALAH
Ditujukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah

Oleh :
Muhammad Ibrahim Sahupala
08 3522 086
SEKOLAH TINGGI ILMU ADMINISTRASI
YPPT PRIATIM TASIKMALAYA
2010
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Manusia dan Penderitaan”. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Besar kita yakni Nabi Muhammad SAW. Kepda keluarganya, sahabatnya, tabi’in tabi’atnya, dan umat yang senantiasa taat kepadanya hingga akhir zaman. Amin.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ilmu Budaya Dasar. Dalam makalah ini akan dibahas tentang hakikat manusia serta tanggung jawab yang diembannya.
Penderitaan termasuk realitas dunia dan manusia. Intensitas penderitaan manusia bertingkat-tingkat, ada yang berat dan ada juga yang ringan. Namun, peranan individu juga menentukan berat-tidaknya Intensitas penderitaan. Suatu perristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang, belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan merupakan energi untuk bangkit bagi seseorang, atau sebagai langkah awal untuk mencapai kenikmatan dan kebahagiaan.
“Tak ada gading yang tak retak”. Penulis sadar masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penyusunan makalah ini dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun, agar penulis dapat memperbaiki kekurangan dan kesalahan dalam penyusunan makalah selanjutnya.Terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi penulis.
Tasikmalaya, Januari 2010
Penulis,
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Manusia adalah makhluk cipataan Tuhan yang paling mulia. Kemuliaan itu dikarenakan manusia dianugerahi akal dan pikiran untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk untuk kehidupannya. Walaupun dalam kenyataannya banyak manusia yang tidak menggunakan akal pikirannya sehingga ia salah arah yang akhirnya merusak dirinya sendiri.
Dalam kehidupannya, manusia tidak dapat hidup sendiri tetapi membutuhkan orang lain. Itulah mengapa sebabnya manusia disebut sebagai makhluk sosial. Disadari atau tidak, setiap manusia saling membutuhkan satu sama lain. Tidak ada seorangpun manusia di bumi ini yang dapat hidup seorang diri. Kemandirian bukan berarti bisa hidup sendiri tanpa orang lain, melainkan kita dapat mengerjakan sesuatu sendiri tanpa menyusahkan orang lain.
Penderitaan termasuk realitas dunia dan manusia. Intensitas penderitaan manusia bertingkat-tingkat, ada yang berat dan ada juga yang ringan. Namun, peranan individu juga menentukan berat-tidaknya Intensitas penderitaan. Suatu perristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang, belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan merupakan energi untuk bangkit bagi seseorang, atau sebagai langkah awal untuk mencapai kenikmatan dan kebahagiaan.
Akibat dari penderitaan itu ada yang mengambil hikmah dari semua penderitaan yang telah dia alami dan ada juga yang tidak seperti itu, mudah-mudahan semua manusia bisa mengambil hikmah dari penderitaan yang mereka alami.
1.2. Rumusan Masalah
Adapun masalah – masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, antara lain :
1. Apa hakekat manusia itu ?
2. Apa yang dimaksud dengan penderitaan ?
3. Apa saja sumber-sumber penderitaan itu ?
1.3. Tujuan Makalah
Dari rumusan masalah yang telah dirumuskan oleh penulis diatas, makalah ini disususn dengan tujuan untuk mengetahui dan mendiskripsikan :
1. Hakikat manusia.
2. Definisi penderitaan.
3. Sumber penderitaan.
1.4. Kegunaan Makalah
Makalah ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik secara teoritis maupun secara praktis. Secara teoritis makalah ini berguna sebagai pengetahuan agar biasa menyikapi positif dalam penderitaan yang dialami dalam hidup ini. Secara praktis makalah ini diharapkan bermanfaat bagi penulis dan pembaca.
1.5. Prosedur Makalah
Makalah ini disusun dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Hakekat Manusia
Manusia adalah mahluk Allah yang sempurna dan mulia dibandingkan mahluk Allah lainnya karna manusia dibekali akal ghorizi untuk berpikir dan juga manusia diberi tugas dan peran di muka bumi ini.
Manusia mempunyai dua kedudukan dan tugas. tugas pertama adalah sebagai abdullah, yang artinya adalah sebagai hamba Allah. Sebagai hamba Allah maka manusia harus menuruti kemauan Allah yaitu beribadah karna beribadah adalah menuruti segala perintah, dan tidak boleh membangkang pada-Nya. Tugas kedua manusia adalah sebagai Kalifatullah. Jika tugas manusia adalah sebagai seorang pemimpin, tentu ia harus dapat membangun dunia ini dengan sinergis, dapat melakukan perbaikan-perbaikan, baik antara dirinya dengan alam, maupun antar sesama itu sendiri.
Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin untuk manusia), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. (http://www.wikipedia.com)
Al-Quran menerangkan bahwa manusia berasal dari tanah dengan mempergunakan bermacam-macam istilah, seperti : Turab, Thien, Shal-shal, dan Sualalah.
Firman Allah itu iyalah dalam Qur’an Surat Nuh, 71 ayat 17-18 :
Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya. (QS. Nuh, 71 : 17-18)
Hal ini dapat diartikan bahwa jasad manusia diciptakan Allah dari bermacam-macam unsure kimiawi yang terdapat dari tanah. Adapun tahapan-tahapan dalam proses selanjutnya, al-Quran tidak menjelaskan secara rinci. Manusia yang sekarang ini, prosesnya dapat diamati meskipun secara bersusah payah. Berdasarkan pengamatan yang mendalam dapat diketahui bahwa manusia dilahirkan ibu dari rahimnya yang proses penciptaannya dimulai sejak pertemuan antara permatozoa dengan ovum.
Manusia diciptakan Allah Swt. Berasal dari saripati tanah, lalu menjadi nutfah, alaqah, dan mudgah sehingga akhirnya menjadi makhluk yang paling sempurna yang memiliki berbagai kemampuan. Oleh karena itu, manusia wajib bersyukur atas karunia yang telah diberikan Allah Swt.
2.2. Penderitaan
Penderitaan berasal dari kata derita, kata derita berasal dari bahasa Sanskerta “dhara” artinya menahan, menanggung. Derita berarti menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan itu ialah keluh kesah, kesengsaraan, kelaparan, kekenyangan, kepanasan, dan lain-lain.
Penderitaan termasuk realitas dunia dan manusia. Intensitas penderitaan manusia bertingkat-tingkat, ada yang berat dan ada juga yang ringan. Namun, peranan individu juga menentukan berat-tidaknya Intensitas penderitaan. Suatu perristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang, belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan merupakan energi untuk bangkit bagi seseorang, atau sebagai langkah awal untuk mencapai kenikmatan dan kebahagiaan.
Akibat penderitaan yang bermacam-macam.
Mengenai penderitaan yang dapat memberikan hikmah, contoh yang gamblang dapat dapat dicatat disini adalah tokoh-tokoh filsafat eksistensialisme. Misalnya Kierkegaard (1813-1855), seorang filsuf
Penderitaan Nietzsche (1844-1900), seorang filsuf Prusia, dimulai sejak kecil, yaitu sering sakit, lemah, serta kematian ayahnya ketika ia masih kecil. Keadaan ini menyebabkan ia suka menyendiri, membaca dan merenung diantara kesunyian sehingga ia menjadi filsuf besar.
Lain lagi dengan filsuf Rusia yang bernama Berdijev (1874-1948). Sebelum dia menjadi filsuf, ibunya sakit-sakitan. Ia menjadi filsuf juga akibat menyaksikan masyarakatnya yang sangat menderita dan mengalami ketidakadilan.
Sama halnya dengan filsuf Sartre (1905-1980) yang lahir di Paris, Perancis. Sejak kecil fisiknya lemah, sensitif, sehingga dia menjadi cemoohan teman-teman sekolahnya. Penderitaanlah yang menyebabkan ia belajar keras sehingga menjadi filsuf yang besar.
Masih banyak contoh lainnya yang menunjukkan bahwa penderitaan tidak selamanya berpengaruh negatif dan merugikan, tetapi dapat merupakan energi pendorong untuk menciptakan manusia-manusia besar. Contoh lain ialah penderitaan yang menimpa pemimpin besar umat Islam, yang terjadi pada diri Nabi Muhammad. Ayahnya wafat sejak Muhammad dua bulan di dalam kandungan ibunya. Kemudian, pada usia 6 tahun, ibunya wafat. Dari peristiwa ini dapat dibayangkan penderitaan yang menimpa Muhammad, sekaligus menjadi saksi sejarah sebelum ia menjadi pemimpin yang paling berhasil memimpin umatnya (versi Michael Hart dalam Seratus Tokoh Besar Dunia).
2.3. Sumber-sumber Penderitaan
Manusia adalah mahluk yang memiliki kepribadian yang tersusun dari perpaduan, saling berhubungan, dan pengaruh mempengaruhi antara unsur jasmani dan rohani, karena itu penderitaan dapat terjadi pada tingkat jasmani dan rohani.
Sumber-sumber penderitaan yang dirasakan oleh manusia itu iyalah :
1. Nafsu
Nafsu adalah semua dorongan yang ditimbulkan oleh segala macam kebutuhan termasuk pula instink sehingga menimbulkan keinginan. Batas antara nafsu dan keinginan tidak terlalu jelas. Poedjawiyatna (1984) menyamakan antara keinginan dan nafsu. Nafsu dapat menimbulkan gairah hidup pada manusia.
Nafsu atau keinginan itu bisa menjadi suatu penderitaan / kehancuran jika kita tidak bisa mengendalikannya tetapi jika manusia itu bisa mengendalikan nafsu atau keinginannya maka manusia itu akan sukses di dunia maupun di alam akhirat.
keinginan adalah sumber penderitaan ketika ia memperbudak kita dan
membuat kita jadi orang lain. membuat kita kehilangan jati diri dan menyakiti diri sendiri. membuat kita kehilangan kemanusiaan. seperti seorang pengembara yang menunggu dalam sebuah pelayaran menuju dermaga yang tidak ada. keyakinan kadang tidak cukup memberi kebahagiaan. karena disamping itu ada kenyataan. kenyataan kadang tidak sesuai dengan harapan dan keinginan. sehingga keinginan hanya menimbulkan penderitaan.
“Rinaldy Tonik (2009) didalam blognya mengatakan bahwa Penyebab dari penderitaan, antara lain: yang pertama karena perilaku buruk manusia, maka daripada itu bersikaplah dengan sepatutnya tau wajar. Yang kedua penyakit atau siksaan (Azab) dari Tuhan”
2. Perasaan
Perasaan merupakan gejala psikis. Perasaan menyangkut suasana batiniah manusia. kalau manusia merasakan cinta, benci dan sebagainya. Perasaan timbul didalam bathin akibat kontak antara manusia dengan lingkungannya dari lingkungan menimbulkan reaksi dalam kaitan reaksi emosional. Reaksi emosional ini dapat sesuai dengan kehendak pribadi tapi ketika tidak sesuai dengan kehendak pribadinya maka akan timbullah rasa tidak puas sehingga timbullah rasa tidak senang, marah dan sikap negatif lainnya.
3. Pikiran
Pikiran disebut juga akal, budi. Dimilikinya budi atau akal ini pula memungkinkan manusia tahu atau mempunyai pengetahuan tentang sesuatu. Tahu dalam hal ini berarti menghubungkan secara mental sesuatu dengan sesuatu.
4. Kemauan
Kemauan disebut juga kehandak. Dimilikinya kemauan atau kehendak dalam diri manusia memungkinkan manusia memilih. Oleh karena itu kemauan atau kehendak ini dapat dikatakan sebagai pelaksana mengenai apa-apa yang telah di pertimbangkan oleh akal budi dan perasaan.
BAB III
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Manusia akan merasa menderita jika anda rasakan itu sebuah penderitaan tetapi jika manuisa itu menjadikan penderitaan sebagai hikmah dan pelajaran maka manuisa itu tidak akan merasakan suatu penderitaan
Penderitaan termasuk realitas dunia dan manusia. Intensitas penderitaan manusia bertingkat-tingkat, ada yang berat dan ada juga yang ringan. Namun, peranan individu juga menentukan berat-tidaknya Intensitas penderitaan. Suatu perristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang, belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan merupakan energi untuk bangkit bagi seseorang, atau sebagai langkah awal untuk mencapai kenikmatan dan kebahagiaan.
keinginan adalah sumber penderitaan ketika ia memperbudak kita dan
membuat kita jadi orang lain. membuat kita kehilangan jati diri dan menyakiti diri sendiri.
Saran
Sejalan dengan simpulan diatas penderitaan tidak bisa hilang selama manusia itu masih hidup tetapi panderitaan itu bisa dikurangi bahkan bisa sampai tak terasa.
Dari pernyataan diatas penulis menyarankan bahwa penderitaan itu harus dijadikan sebagai hikmah dan ujian untuk menaikan tingkat derajat manusia itu sendiri.
Daftar Pustaka
Al-Quran dan Terjemahnya
Poedjawiyatna, Manusia Dengan Alamnya; Filsafat Manusia,Bina Aksara,
Tonik Rinaldy. (2009) Sumber Penderitaan. [Online]. Tersedia : http : // 4ld1 .nge bl ogs.com/2009/11/13/sebab-penderitaan/. [13 November 2009].
VanPeursen,Prof. DR.C. A., Tubuh Jiwa dan Roh, Sebuah pengantar dalam filsafat manusia, PT BPK. Gn. Mulia,

